Selasa, 23 Agustus 2011

Maafkan Aku Bi, Hutangku Membuat Anakmu Meninggal (sebuah Renungan)


Dia seorang wanita tangguh, namanya Darsih. Saya memanggilnya Bi Darsih. Beliau ini seorang janda dan mempunyai satu anak. Murni nama anaknya. Usia Bi Darsih ini sekitar 50 tahunan. Sehari-hari beliau ini berjualan nasi uduk untuk menopang hidupnya. Beliau orangnya sangat baik. Sering saya meminjam uang kepadanya, ketika saya lagi butuh pinjaman.

Pagi itu beliau datang menemui, ketika saya hendak berangkat touring ke Anyer. Mukanya tampak kuyu seperti kurang tidur. Walaupun guratan ketegarannya masih membayang di wajah beliau.

“Den, maaf. Saya ada perlu sama Deden”, ucapnya.

“Ada apa Bi. Kebetulan saya buru-buru nih, sudah ditunggu sama temen-temen, mau touring. Kebetulan saya jadi panitianya”, jawab saya sambil naik ke motor.

” Aduh gimana yah Den, saya ga enak ngomongnya”, timpalnya ragu.

“Ah.. Bi Darsih ini, kayak sama siapa aja. Sok atuh ngomong, ada apa?”

“Den, bibi butuh uang. Si Murni, lagih sakit, udah3 hari. Panasnya gak turun-turun”

“Aduuuh Bi, maaf. Saya lupa kalau saya punya hutang sama Bibi. Harusnya bayarnya kemarin yah, sesuai janji saya.”

“Iyah Den, maaf, bukan maksud Bibi nagih. Cuman, saat ini bibi butuh sekali, untuk biaya si Murni ke Rumah Sakit”, ucapnya penuh ragu.

“Bi, maafkan saya. Saat ini saya hanya punya uang untuk biaya touring. Coba nanti sore, sehabis pulang dari Anyer, saya pasti ngambil uang ke Bank. Untuk saat ini, saya kasih sepuluh ribu dulu aja, buat beli obat penurun panas yah Bi” kata saya sambil menyodorkan uang.

“Tapi, Den. Si Murni, sepertinya harus dibawa ke Rumah Sakit sekarang. Bibi khawatir sekali”, ucapnya memelas, sambil menerima uang dari saya.

“Bi, maafkan Deden. Bukannya tidak mau membayar sekarang, tapi Bibi lihat sendiri. Kalau saya hendak berangkat”, jawab saya sambil memasukan anak kunci motor.

“Ya sudahlah Den. Bibi coba minjem tetangga dulu sambil nunggu Deden pulang dari Anyer”, sekilas tertangkap olehku kilatan kesedihan di matanya, membuatku meragu. Namun bayangan teman-teman touring yang sudah menunggu memaksa keraguanku menghilang.

“Makasih yah Bi. Saya janji ntar sore, saya bawa uangnya”, ucap saya sambil menghidupkan motor.

“Baik Den”, jawabnya.

Akhirnya saya pun berangkat ke Anyer bersama teman-teman. Pada saat itu saya berpikir, saya tidak salah karena kebetulan Bi Darsih menagih disaat yang tidak tepat.

Namun ketika malam tiba. Sepulang saya dari Anyer, terkaget-kaget saya ketika melihat ada bendera kuning di depan gang.

“Siapa yang meninggal Ron?”, tanya saya kepada Roni yang sedang duduk-duduk di depan gang.

“Si Murni Bang, anaknya Bi Darsih”, jawabnya. Deg….. jantung saya langsung bergetar mendengar nama barusan disebut. Buru-buru saya menuju rumahnya Bi Darsih dengan perasaan yang berkecamuk.

Tiba di depan rumahnya, terlihat ada kursi-kursi bagi pelayat yang diletakan di jalan. Perasaan sayapun semakin kacau. Saya parkirkan motor di depan rumahnya dan langsung masuk ke dalam rumah Bi Darsih.

Di dalam rumah, tampak Bi Darsih sedang duduk di karpet. Bekas air mata, masih tampak di mukanya. Membuat saya limbung, dan tanpa malu-malu saya tersungkur di hadapannya sambil menangis.

“Bi, maafkan saya. Saya telah tidak tahu diri. Selama ini saya sudah banyak dibantu oleh bibi. Dulu waktu saya menghutang, saya memelas-melas sama Bibi untuk mendapatkan pinjaman. Namun apa balasan saya ke bibi, hanyalah kesusahan. Coba saya tadi tidak egois, lebih mementingkan touring daripada membayar hutang ke Bibi. Pastinya si Murni masih bisa diselamatkan”, ucap saya sambil berurai air mata, tak berani sedikitpun memandang muka Bi Darsih.

“Den, yang sudah ya sudah. Tak usah dipikirin, Bibi rela kok. Ini semua taqdir dari Allah. Jangan menyalahkan diri begitu”, jawabnya terisak.

“Nggak Bi. Ini salah saya. Harusnya tadi saya ambil uang terlebih dahulu ke Bank. Nyawa lebih penting daripada touring. Saya bisa telepon temen-teman untuk menunggu saya sebentar atau mereka berangkat terlebih dahulu baru saya menyusul. Hukumlah saya Bi, caci maki saya. Jangan Bibi perlakukan saya begini, saya jadi merasa tambah bersalah Bi”, tangis saya bertambah deras.

“Deden, nyawa bukan milik kita. Ada atau tidak ada uang itu, kalau sudah waktunya, tetap saja nyawa anak Bibi tidak akan terselamatkan. Sudah jangan menangis, Bibi Ikhlas kok. Bibi tahu Deden merasa bersalah, tapi apalagi yang harus Bibi lakukan. Mencaci maki Deden pun tidak akan mengembalikan nyawa anak Bibi. Yang penting Deden, bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. Bagi bibi sudah cukup”.

Akupun terdiam, namun air mata saya semakin deras mengalir. Begitu mulia sekali hatimu Bi. Tak ada sedikitpun rasa dendam, benci di hatimu.

“Bi Maafkan aku. Dari sekarang, aku berjanji. Aku akan selalu membayar hutang tepat waktu, biar bagaimana susahnya keadaanku. Baik itu hutang janji atau hutang harta. Terimakasih Bi atas pelajaran yang telah kau berikan pada saya”, ucapku dalam hati.

Cerita diatas adalah fiktif belaka, jika ada unsur kesamaan pada cerita nyata, itu hanya kebetulan belaka.